Mengapa Pilih Jokowi Ma’ruf Amin?

Pasangan Calon Jokowi Ma’ruf Amin resmi berlaga melawan pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Laga pilpres akan digelar pada 19 April 2019. Meskipun kedua nama pasangan itu sudah diketahui sejak lebih dari satu bulan lalu, tapi masih ada yang bertanya-tanya: mengapa mereka? Artikel analisis ini bertumpu untuk menjawab pertanyaan tersebut dan mengulasnya. Artikel terbagi dua tulisan, masing-masing menjelaskan kedua kandidat capres-cawapres tersebut. Langkah – langkah politik yang akan diambil dalam dua tahun pertama pemerintahan Jokowi dipusatkan untuk menyelesaikan tiga proyek besar tersebut. Dan juga orang yang bertindak sebagai dirijen proyek ini adalah Luhut Binsar Panjaitan. Seperti kita ketahui Luhut adalah jenderal lapangan dalam kampanye Pilpres Jokowi-Jusuf Kalla pada 2014. Pria 71 tahun ini adalah purnawirawan jenderal bintang empat (kehormatan) yang pernah menjadi menteri perindustrian dan perdagangan di era Presiden Abdurrahman Wahid. Karier militernya lebih berkutat pada kesatuan pasukan khusus.

Luhut mengenal Jokowi pertama kali pada 2008. Dalam pengakuannya, ketika itu sebagai pengusaha pemegang hak penguasaan hutan, Luhut menilai perlu mendiversikan kayu produksi dalam bentuk olahan furnitur. Oleh salah satu orang direkturnya, ia diperkenalkan dengan Jokowi, yang memiliki perusahaan mebel bernama PT Rakabu. Jokowi saat itu adalah Wali Kota Solo. Dan tengah panen pujian—di antaranya disebut kepala daerah bersahaja yang tangkas membenahi kota. Lebih singkatnya, Luhut dan Jokowi merasa cocok bekerjasama membentuk PT Rakabu Sejahtera. (Nama “Sejahtera” diambil dari grup bisnis yang dimiliki Luhut, Toba Sejahtera.) Sejak saat itu keduanya dekat. Jokowi setelah itu berhasil menjadi Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta pada 2012. Tahun 2014, Jokowi berniat maju sebagai capres, dan tentu saja sudah mendapatkan tiket dari PDIP. Pada momentum inilah, Luhut membuat manuver politik. Ia menanggalkan posisinya sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Golongan Karya (Golkar) untuk berpaling menjadi Tim Sukses Jokowi Ma’ruf Amin. Hal tersebut membuatnya berseberangan dari pilihan Golkar yang mendukung Prabowo-Hatta.

Buah ‘pembelotan’ Luhut ternyata manis. Jokowi-Jusuf Kalla menang. Luhut pun segera mengambil peran strategis di pemerintahan. Ia penasehat politik, juru strategi, pelobi investasi, sekaligus pemadam kebakaran dari kasus – kasus pelik pemerintahanan Jokowi. Hal itu dilakukannya dalam posisi apa pun, apakah itu sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Menkopolkam, atau hingga kini, Menko Kemaritiman. Tak heran jika ia dijuluki superminister. 13 Januari 2015. Baru menginjak sekitar tiga bulan menjabat presiden, Jokowi Ma’ruf Amin sudah mendapat cobaan berat. Bom itu datang dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka juga menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka karena kepemilikan rekening jumbo. Itu bukan tuduhan sepele. Budi adalah kandidat kuat Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) dan dikenal dekat dengan Ketum PDIP, Megawati Sukarnoputri. Budi merupakan mantan ajudan Mega saat putri Sukarno itu menjabat sebagai presiden (2001-2004).

Polri ketika itu menyerang balik. Polisi ganti menunjuk dua pimpinan KPK, Abraham Samad dan Bambang Widjojanto, sebagai tersangka. Samad dituding memalsukan dokumen kartu keluarga, sementara itu Bambang juga dituduh memalsukan keterangan persidangan Pilkada. Budi Gunawan juga melawan. Ia lantas mengajukan gugatan praperadilan dan berhasil memenangkannya berkat putusan kontroversial Hakim Sarpin Rizaldi. Meskipun ia tak bisa memenangkan semuanya. Targetnya untuk menjadi Kapolri gagal. Jokowi di tengah sorotan publik, di luar dugaan, berani mencoret namanya dan ganti mengajukan Badrodin Haiti sebagai satu – satunya calon Kapolri ke Dewan Perwakilan Rakyat. Publik mulai percaya, Jokowi Ma’ruf Amin tak selalu bertindak sebagai “petugas partai” PDIP (baca: Megawati). Perseteruan KPK dan Polri berakhir setelah Luhut Panjaitan, pada saat itu Kepala Staf Kepresidenan dan kemudian Menkopolkam, turun tangan. Dan Budi pada akhirnya tetap diakomodasi dengan ditempatkan sebagai Kepala Badan Intelijen Negara dan dinaikkan pangkatnya menjadi jenderal penuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *